Belum Gawe Ko’ Nikah

August 6th, 2008 by zalistrugle-win

 

Barusan
temen gw ngundang untuk datang ke pesta pernikahannya. Udah lama juga
kita engga ketemu, ya sekitar 4 tahun, selepas lulus SMA. Tampangnya
masih sama seperti waktu SMA, cuma sekarang agak mirip Jerry Yan
(bintang film mandarin) tapi rambutnya doang. Sekilas gw teringat
tentang tingkahnya yang konyol sewaktu SMA. Tingkahnya yang mirip orang
bener (berarti dia gila dong!) Ya mungkin bisa dibilang begitu.
Hehe..just kidding. Tapi asli, kelakuannya sewaktu di sekolah
bener-bener konyol. Didalam kelas dia engga pernah diam, selalu ada aja
bahan ocehan. Malahan pernah ketika anak-anak sedang konsentrasi
belajar di kelas, dia menirukan gaya orang yang sedang mengendarai
mobil dan kemudian ditilang polisi. Spontan anak-anak ketawa. Konyol..!

 

Kita
ngobrol sebentar di depan rumah gw. Dia bercerita kalau dia sudah
menyebarkan undangan ke anak-anak alumni yang lain. Dia juga bercerita
kalau dirinya belum kerja tetapi sudah disuruh untuk cepat kawin.
Desakan dari pihak calon mertua. Sejenak gw berfikir. Apa ini memang
lagi musimnya orang pengangguran yang nekad nikah ya?

 

Belum
sampai setahun yang lalu, temen gw se-RT juga nikah, itupun dia juga
belum gawe. Belum genap sebulan, temen gw se-RW juga nikah, itupun dia
juga masih nganggur. Apa emang udah engga tahan ya? Ataukah accident?
Yah itu sih urusan mereka. Yang jelas gw cuma menganalisa apakah emang
trend-nya sekarang lagi musim pengangguran yang nekad kawin? Soalnya
akhir-akhir ini memang ini yang terjadi dikalangan temen-temen gw.

 

Ada
yang pernah bilang ‘menikah itu membuka pintu rezeki’. Ya, rasanya
memang benar. Soalnya dengan menikah seorang laki-laki akan mempunyai
rasa tanggung jawab yang besar untuk mengurusi keluarganya, dan ini
bisa dijadikan motivasi yang kuat untuk berusaha mencari kerja.
Alhasil, temen gw yang sudah 4 tahun menganggur, ketika sudah menikah
kini mendapatkan pekerjaan. Memang rezeki itu sudah ada yang mengatur.

 

Di
zaman yang serba susah ini, susah sekali mencari pekerjaan. Tidak ada
jaminan dari sebuah gelar. Semuanya sama saja. Mau yang lulusan SD,
SMP, SMA, S1, S2. Semuanya sama saja. Semuanya berpulang kepada
seberapa besar usaha kita dan seberapa besar koneksi kita. Gw rasa
pilihan menikah bagi para pengangguranpun sudah menjadi hal yang wajar.
Disamping lebih cepat menikah lebih baik untuk menghindarkan maksiat,
juga dengan cepat menikah dapat membuka pintu rezeki. Yang pasti satu
hal. ‘kalau nungguin mapan dulu di zaman sekarang, kapan nikahnya?’
Maybe Yes, Maybe No.

 

Psikopat Dalam Serial Nyata

August 6th, 2008 by zalistrugle-win

 

 

Mirip
sebuah serial TV horor kasus seorang pria gay yang membantai 11 orang.
Bagaimana tidak, hampir setiap hari kita diberikan kejutan tentang
bertambahnya jumlah korban. Seakan-akan penonton dirumah ikut
menerka-nerka ‘ada berapa lagi jumlah korbannya?’. Berbagai dugaan
motif pembunuhanpun terus bermunculan, mulai dari kisah cemburu asmara
sesama jenis, hingga pada penguasaan harta para korban. Baru-baru ini
juga para psikolog berpendapat bahwa Ryan adalah seorang ‘psikopat’.
Seorang yang tanpa hati nurani membantai para korbannya, malah disebut
juga bahwa Rian kecanduan membunuh. Ih sereemmmm…!

 

Ga’
habis pikir bagaimana seseorang dapat dengan enteng membunuh,
seakan-akan itu sudah hal yang teramat biasa baginya. Membunuh 11 orang
yang salah satunya dimutilasi dan juga korban yang diantaranya adalah
seorang Ibu dan anak. Sekilas terlihat dilayar kaca bagaimana rupa
seorang penjagal yang terkesan dingin tanpa ekspresi ketika berbagai
televisi menayangkannya. Sadis. Mungkin kata psikopat memang cocok
disandangnya.

 

Kali
ini bener-bener psikopat yang biasanya ada di film-film muncul dalam
dunia nyata. Kehadirannya selalu menghiasi layar televisi. Setiap kita
nonton berita, selalu tentang perkembangan kasus ini. Bahkan acara
infotainment-pun yang notabenenya tontonan ibu-ibu rumpi, kini ikut
disuguhkan kisah psikopat ini. Ryan telah menarik perhatian jutaan
orang. Menjadi orang terkenal tanpa ikut kontest pencari bakat. Tempat
kejadian perkara pun selalu dipenuhi dengan penuh sesak orang yang
ingin menyaksikan tragedi berdarah tersebut. Bahkan saking ramainya,
seakan-akan mirip sebuah tempat wisata dimana orang-orang ingin
mendatanginya.

 

Sebuah
pertanyaan menggelitikpun muncul didalam kepala. Kenapa baru sekarang
kasus ini terungkap? Bagaimana Ryan bisa menyembunyikan mayat dan
tindakan kriminalnya hingga tidak tercium sama sekali? Pak Polisi
Kemana Aja? Mayat korban yang telah diketemukan sekarangpun akibat
pengakuan Ryan. Kalo Ryan tidak tertangkap, Apakah Polisi akan
mengetahui ada korban kejahatan yang berjumlah 10 orang dan diantaranya
telah menjadi kerangka? Mungkin saja tidak akan pernah tahu, sampai
pada akhirnya jenazah tersebutpun hilang ditelan bumi.

 

Ini
membuktikan bahwa kemampuan investigasi polisi dalam mencari orang
hilang masih lemah. Entah lemah, atau setengah hati. Soalnya baru
sekarang-sekarang saja semenjak kasus Ryan, pengaduan orang hilang
makin marak dilaporkan. Entah memang para pelapor takut jika salah satu
kerabatnya merupakan korban Psikopat ini, atau memang momentumnya yang
tepat dan dimanfaatkan oleh para pelapor dikarenakan laporan mereka
tempo hari kurang ditanggapi serius. Mungkin laporan orang hilang
bukanlah masalah seerius bagi polisi. Tetapi bukankah jika memang sudah
ditangani dengan baik, tidak akan seserius ini dampaknya. Polisi dapat
mencium dan menghentikan tindak kejahatan Ryan sehingga tidak harus
sampai sebelas korban atau lebih.

   

Koruptor oh Koruptor

August 6th, 2008 by zalistrugle-win

   

Kampret…!
Kenapa ya gw kesel bener kalo ngeliat muka para koruptor yang ditangkap
dan ditayangkan di televisi. Mukanya itu lho. Muka ngeselin. Makan duit
rakyat tapi masih kelihatan santai-santai aja. Kenapa mereka
seolah-olah santai. Yah mungkin wajar aja karena hukuman yang
dijatuhkan untuk para koruptor engga bakalan berat. Paling lama juga 5
tahun. Itupun biasanya pada akhirnya mereka tak bersalah dan engga
dijatuhin hukuman apa-apa. Siapa sih yang punya nyali buat ngehukum
koruptor?

 

Hal
ini jelas berbeda ketika kita melihat berbagai kasus pembunuhan atau
kasus narkoba yang terpidananya banyak dijatuhi hukuman mati. Kenapa
koruptor ko’ engga? Apakah memakan uang negara yang notabenenya uang
rakyat tidak termasuk kejahatan besar? Apakah dengan merugikan 200 juta
lebih penduduk Indonesia yang banyak diantaranya orang-orang melarat,
tidak termasuk kejahatan super besar? Kalau gw bilang inilah kejahatan
tersadis yang dilakukan manusia, bahkan lebih besar daripada teroris.
Wajar sekali andaikata pelakunya dijatuhi hukuman mati dengan
disaksikan seluruh rakyat Indonesia melalui siaran Televisi.

 

Kejahatan
korupsi ini bersifat laten, tetapi besar dan parah sekali dampaknya.
Mungkin sebagian rakyat awam tidak menyadarinya. Tetapi pasti akan
sangat merasakan dampaknya jika tidak ada korupsi. Tidak akan ada yang
namanya BBM naik, tidak akan adanya yang namanya listrik padam, tidak
akan ada yang namanya sekolah bayar, tidak akan ada yang namanya jalan
bolong, tidak akan ada yang namanya orang miskin mati tiap harinya
karena engga bisa berobat dan engga makan, dan tidak akan ada yang
namanya kesengsaraan yang menimpa kita sekarang ini.

 

Korupsi
oh korupsi. Seakan sudah mengakar kuat dan membudaya di Bumi Indonesia.
Kalo dipikir-pikir apa bisa ya Indonesia memberantas korupsi, seperti
yang digembar-gemborkan Pemerintah. Haha..gimana mau bisa, wong Para
Jaksa Agungnya saja korupsi, wong Mahkamah Agungnya aja kotor, wong
Anggota Dewannya aja kotor. Sistemnyapun kotor. Lalu siapa yang bersih?
Apakah yang kotor-kotor itu bisa dibersihkan?

      

let it flow

August 6th, 2008 by zalistrugle-win

 

Let it flow.
Biarin ngalir aja deh… Itu adalah ucapan yang biasa dilontarkan
seseorang ketika ditanya mengenai rencananya untuk masa depan.
Terdengar ringan memang buat yang mengucapkan dan enak buat yang
mendengarkan. Tetapi apakah se enteng itu? Apakah yang dimaksud dengan
‘biar ngalir aja deh’ berarti kita harus membiarkan nasib yang menuntun
kita? Bukankah idealnya kita yang menentukan nasib kita dan menuntun
nasib kita ke arah yang kita mau?

 

Sering sekali gw mendengar ucapan seperti itu dari temen-temen gw, ketika ditanya soal rencana masa depannya. Let it flow atau go with the flow.
Padahal dia sendiri engga ngelakuin apa-apa. Gw rasa ucapan seperti itu
terlontar karena memang dia tidak punya rencana. Ironis. Akan kemana
arus membawa kita? Kita engga tahu. Sudah dipastikan jika kita tidak
mempunyai layar dan kemudi tentu arus akan membawa kita
terpontang-panting ke arah yang tak tentu, bahkan mungkin ke jurang
yang terjal.

 

Bukankah
hidup itu rencana? Bukankah hidup itu perjuangan? Kalau kita manusia
yang tidak mempunyai kemampuan untuk menciptakan kepastian dan
keniscayaan. Lalu apakah kita pantas berharap apabila rencana dan usaha
saja tidak kita lakukan? Apakah kita tidak malu untuk berdoa, sedangkan
ikhtiarnyapun tidak? Semua itu adalah proses. Berusaha juga termasuk
proses. Bukan kita yang menentukan hasilnya, tetapi Dia Yang Maha
Segalanya yang menentukannya. Meskipun hasilnya tidak sesuai dengan
harapan tetapi kita toh sudah berusaha. Pasti usaha kita ada
manfaatnya. Setidak-tidaknya kita tidak malu untuk berdo’a kepada Yang
Maha Kuasa, jika kita sudah berusaha.

 

Berusaha
untuk lebih baik, berusaha untuk lebih pintar, berusaha untuk
mendapatkan pekerjaan, berusaha untuk mendapatkan cinta, juga termasuk
rencana. Engga mungkin go with the flow-nya pengangguran yang engga ngelakuin apa-apa bisa mendatangkan pekerjaan. Engga mungkin juga go with the flow-nya
orang yang engga pernah berusaha mengejar cintanya tau-tau bisa
mendapatkan cinta yang diharapkannya. Mungkin bisa aja, kalau di alam
mimpi. Tetapi hidup ini nyata bung! Gw yakin dengan adanya rencana dan
usaha kita pasti tidak akan pernah menyesal. Engga ada lagi kata-kata
“kenapa ya waktu itu gw engga…..”.

 

Gw
inget kata dosen gw, “Dengan jiwa yang teguh dan semangat yang tangguh
tiada jalan terlalu jauh untuk ditempuh”. Gw heran kenapa cuma
kata-kata itu aja yang gw inget dari mata kuliah dosen tersebut yang
selalu nge BT in. Yang kalo ngajar kaya ngajarin anak TK. Tetapi
kata-kata dari Beliaulah yang memberikan inspirasi buat gw, ketika gw down.
Semuanya pasti ada jalannya selama kita masih berusaha untuk mencari.
Seperti kata Alexander Garaham Bell, “ketika satu pintu tertutup, maka
pintu lainnya dibukakan”. Belum terlambat untuk segalanya. Dengan
rencana dan usaha yang disertai doa berarti kita telah mempunyai kemudi
dan layarnya. So, kita dapat dengan yakin dan bangga mengucapkan ‘let it flow’.

   

munajat cinta

January 23rd, 2008 by zalistrugle-win
 

Minggu pagi, dari pada ngga ada kerjaan mendingan gw nulis blog, ya ngga?

 

Kalian
pernah ngalamin engga, setiap kali ngejalanin suatu hubungan selau
ngerasa engga yakin? Hal inilah yang selalu terjadi pada gw sampai
sekarang. Gw memang sering jatuh cinta tetapi ketika menjalani cinta
tersebut selalu merasa engga yakin. Kadang-kadang yang lebih buruknya
lagi gw sudah berniat ninggalin dia sebelum gw jadian ma dia (mirip
lirik lagunya Robbie William yang judulnya ‘feel’). kenapa y?

 

Gw selalu merindukan cinta sejati. Tapi dimana? kapan? dan siapa?

 

Selama
ini terlalu banyak kriteria yang gw harapkan buat mencari cewe, padahal
gw tahu engga ada manusia yang sempurna termasuk juga gw. Mungkin hal
ini yang selalu menyebabkan gw engga pernah yakin untuk menjalani
hubungan dengan cewe, karena gw terlalu mengharapkan yang sempurna.

 

Kisah
cinta gw mungkin bisa dibilang acak kadut, engga jelas, dsb. Lebih
sering gw menjalani suatu hubungan tanpa komitmen, atau bisa dibilang
HTS (Hubungan Tanpa Status). Gw lebih enjoy dengan hubungan seperti
itu, karena gw merasa bebas dan engga terikat walaupun engga’ munafik
kalau gw benar-benar sayang sama cewe tersebut. Tetapi hal ini juga
yang sering menyebabkan patah hati.

 

Kadang-kadang
gw juga bingung sama sifat gw yang satu ini. Mungkin gw menjadi pesimis
dalam membina hubungan dengan cewe dikarenakan faktor histories gw. Ya
mungkin hal ini disebabkan sejarah gw yang selalu tidakl mendapatkan
cewe yang gw idam-idamkan. Gw selalu tidak berhasil mendapatkan gebetan
yang gw incar, tetapi yang engga gw harapkan malah kadang-kadang
ngedeketin gw. Mungkin hal tersebut merupakan salah satu penyebabnya.

 

Dampak
nyata yang terjadi pada diri gw akibat sifat gw yang seperti itu adalah
gw lebih sering ngejomblo dibandingkan pacaran. Tapi gw ga pernah putus
asa dan engga pernah patah semangat, karena cinta bukanlah segalanya,
walaupun jauh di lubuk hati gw selalu berharap dan berdo’a “Tuhan
kirimkanlah aku kekasih yang baik hati, yang mencintai aku apa
adanya”(munajat cinta).

 

 

 

Minggu

13 January 2008

   

Interview Lagi…..

January 23rd, 2008 by zalistrugle-win
 

Duh…my bro…! hari ini gw habis interview untuk sebuah lowongan pekerjaan di daerah Kebon Jeruk. Begini ceritanya….

 

Dengan
maksud ingin datang lebih awal supaya cepat pulang ke rumah sebelum
zuhur, gw berangkat kira-kira jam 8.30 pagi. Setelah menempuh
perjalanan dengan menggunakan sepeda motor walaupun sempat muter-muter,
tanya sana-sini , akhirnya gw sampai ditempat kira-kira jam 9.20. 

 

“Ah masih pagi…, paling belum banyak datang.”

 

Pas gw masuk….,

 

“wiiih Gile…, udah banyak banget yang datang.”

 

Ternyata
gw salah perkiraan, gw engga yakin bisa pulang sebelum zuhur kalau
ngelihat pelamar yang segini banyaknya. Gw memperhatikan mereka satu
persatu, yang terlihat yaitu wajah-wajah muda yang pintar yang sangat
membutuhkan pekerjaan. Dalam hati,  gw berkata, ternyata banyak sekali pengangguran-pengangguran intelektual yang ada di

Indonesia

, khususnya di

Jakarta

.
Mereka yang sudah belajar selama 3 tahun maupun 4 tahun dengan biaya
yang tidak sedikit, masih harus merasakan sulitnya mencari pekerjaan,
apalagi yang cuma tamatan SMA.

 

Setelah
berdiri cukup lama di dalam ruangan dikarenakan bangku yang tersedia
telah penuh diduduki, akhirnya gw ngerasa BT, dan mulai mencari teman
ngobrol. Akhirnya gw kenalan dan ngobrol dengan siapa saja yang ada di
dekat gw untuk mengisi waktu sekaligus bertukar informasi mengenai
pekerjaan. Sebenarnya, inilah menurut gw romantika dari setiap
pencarian kerja. Gw selalu bertemu dengan orang baru yang mempunyai
karakter dan pengalaman berbeda, yang mungkin setelah interview itu
selesai gw engga akan ketemu lagi dengan orang tersebut, but inilah
romantikanya….!

 

Setelah menunggu antrian kira-kira 4 jam, akhirnya gw dipanggil juga untuk interview. Dengan
perut lapar dan kepala pusing gw bergegas ke ruang interview tersebut.
Setelah bla…bla…bla…dan interview selesai akhirnya gw bergegas pulang
karena perut sudah engga tahan banget laparnya, padahal tadi pagi sudah
makan nasi uduk, ko’ cepat lapar y? mungkin gara-gara uduknya engga
pakai

tempe

seperti biasa coz pengusaha

tempe

lagi pada demo jadi gw cepet lapar. Gw lihat jam sebentar, ternyata jam
13.30. Gw jalan menuju tempat parkir setelah sebelumnya berpamitan
dengan rekan-rekan seperjuangan sesama pelamar untuk pulang. Setelah
diatas motor gw ngebut pulang ke rumah sambil ngebayangin makanan yang
menanti di rumah dan sejenak berdoa “Ya Allah seandainya pekerjaan ini
cocok dan layak untukku maka luluskanlah aku, dan apabila tidak layak
untukku maka berikanlah aku kesabaran, sesungguhnya Engkau lebih
mengerti apa-apa yang terbaik untukku.”

 

Untungnya udah shalat dzuhur….

 

 

 

 

 

Selasa, 15 Januari 2007

   

Psikotest Kerja Pertama

January 23rd, 2008 by zalistrugle-win

Kemaren gw habis
psikotest di sebuah dealer mobil di Jakarta sebagai kelanjutan dari
tahap pertama karena gw lulus interview. Jumlah peserta psikotest untuk
posisi staf adm pada saat itu sekitar 9 orang. Gw deg-degan karena
sebelumnya gw belum pernah ngalamin psikotest untuk penerimaan kerja
kaya gini. Bgaimana nanti soal-soalnya ya? Waduh kepala gw sampai
pusing mikirin soal-soal yang belum jelas kaya gimana.

 

Jujur,
awalnya gw engga nyangka bakalan dipanggil untuk psikotest setelah
wawancara kemaren. Apa mungkin ini gara-gara format CV gw yang baru,
yang lebih keren? Ah…engga tahu juga deh mungkin juga karena kebetulan.
Setelah mendapat telepon untuk panggilan psikotest besok, malamnya gw
langsung bergegas ke gramedia buat nyari buku yang membahas soal-soal
psikotest. Di sana banyak sekali buku-buku yang membahas mengenai
psikotest, setelah melihat-lihat semua buku tersebut, akhirnya gw
menemukan buku psikotest yang lengkap dan lumayan lebih murah. Sampai
dirumah gw langsung ngebaca buku tersebut sampai ketiduran.

 

Sudah
jam 13.30 sekarang, tapi ko’ belum dipanggil juga ya, padahal janjinya
jam 13.00. Sudah satu jam gw nungguin, untungnya sambil ngobrol-ngobrol
sama peserta lain jadinya ga BT-BT banget. Engga lama kemudian akhirnya
dimulai juga psikotestnya. Soal dibagikan, dan benar juga pola soalnya
sesuai dengan buku yang gw baca. Akhirnya 25 menit telah berlalu, soal
beserta jawaban dikumpulkan karena memang waktu untuk sesi pertama ini
hanya 25 menit. Kemudian dilanjutkan dengan sesi kedua, dan petugas
memberikan sebuah kertas kosong beserta pensil. Ternyata untuk sesi
pertama ini soalnya adalah menggambar. Peserta disuruh menggambar
manusia dan sebuah pohon dengan waktu 20 menit. dalam sesi kedua ini
banyak peserta yang bingung untuk menggambar, ada yang menggambar orang
lagi angkat besi, orang lagi megang pacul, orang yang cuma berdiri, dan
lain sebagainya, gw sendiri ngegambar orang lagi baca koran. Akhirnya
20 menit telah berlalu dan jawaban dikumpulkan.

 

“Ah untung udah selesai….habis ini mungkin langsung interview lagi.”

 

Tiba-tiba petugas kembali datang, dan membagikan soal.

 

“What…….., ada sesi ketiga!”

 

Engga tanggung-tanggung parahnya, untuk sesi ketiga ini soalnya adalah akuntansi.

 

“Adu emak, gimana ini gw engga bisa akuntansi!”

 

Kebetulan
memang semenjak kuliah nilai akuntansi gw selalu jelek, hal ini memang
dikarenakan gw malas buat belajar akuntansi, karena menurut gw, buat
apa susah-susah ngitungin duit yang fiktif, yang nominalnya
besar-besar. Lagipula kenapa dalam psikotest ini ada soal akuntansi,
bukannya psikotest ini hanya untuk mengetest psikologi dan logika kita.
Terpaksa menit demi menit berlalu tanpa ada satu soal pun yang gw
kerjain kecuali soal no.1 yang diminta membuat jurnal, itupun gw buat
asal-asalan.

 

Waktu telah berlalu, dan tiba saatnya untuk interview lanjutan. Tibalah giliran gw memasuki ruangan interview.

 

“Silakan duduk di sebelah sana!” (interviewer)

 

Maksudnya adalah berhadapan dirinya.

 

“Nama kamu Mukhlis Sazali ya?” (interviewer)

 

“oh, iya Pak.”

 

Bla..bla…bla.., akhirnya dia ngomong gini,

 

“Kamu minta gaji berapa?” (interviewer)

 

“sesuai dengan standar perusahaan Pak.”

 

Karena
gw merupakan calon tenaga kerja yang belum punya pengalaman dan
merupakan fresh graduate, jadinya gw engga berani menyebutkan angka.

 

“Kamu tahu engga UMR berapa?” (interviewer)

 

“sekitar 900 ribu Pak.”

 

“Ya, segitulah gaji yang kami tawarkan, bagaimana?”

 

Waduh
gile aja, masa gaji S1 segitu, itu sih gaji untuk lulusan SMA.
Ah…,siapa tahu aja dia cuma mo ngetest mental nih, mendingan gw
sanggupin dulu deh.

 

“Ya sudah saya coba dulu Pak.”

 

“Saya engga mau dicoba-coba.” (interviewer)

 

“Oke saya setuju hitung-hitung cari pengalaman.”

 

“berarti ini cuma buat batu loncatan kamu dong? Saya mau orang yang kerja disini benar-benar betah.”

 

Waduh nyolot juga nih orang, semua kata-kata gw dibalikin, akhirnya gw terpaksa nyangkal.

 

“Kalau engga dicoba, kita mana tahu Pak.”

 

“Oke
deh, kalau begitu, kita llihat kabarnya nanti, kalau memang kamu
dipanggil lagi sebelum tanggal 25 berarti kamu lulus dan interview
dengan user.”

 

Akhirnya drama tanya jawab itupun berakhir.

 

Sekali lagi gw berdoa,

 

“Ya
Allah seandainya pekerjaan ini cocok dan layak untukku maka luluskanlah
aku, dan apabila tidak layak untukku maka berikanlah aku kesabaran,
sesungguhnya Engkau lebih mengerti apa-apa yang terbaik untukku.”

 

 

 

18 Januari 2008

Kesehatan Pak Milyuner (Suharto)

January 23rd, 2008 by zalistrugle-win

Sudah beberapa hari
belakangan ini baik, televisi, surat kabar, maupun media informasi
lainnya selalu memberitakan kondisi terkini kesehatan mantan orang no.
1 di Indonesia, siapa lagi kalau bukan Pak Harto. Berbagai masalah
penyakit komplikasi yang dideritanya menyebabkan Pak Harto harus
tinggal lama di Rumah Sakit Pusat Pertamina, selain itu faktor usia
juga merupakan salah satu penyebab susahnya penguasa Orde Baru ini
untuk sembuh. Tim dokter terus berusaha keras untuk menyembuhkan Pak
Harto dengan berbagai cara, mulai dari mengeluarkan cairan dari
paru-paru, mencuci darah, sampai memasang alat pacu jantung.

 

 

 

Dari
wacana diatas, kadang-kadang gw berfikir, seandainya semua orang
Indonesia sekaya “orang tua” yang sekarang sedang sakit ini, mungkin
engga ada orang yang mati muda, yang meninggal gara-gara ngga punya
duit buat bayar biaya rumah sakit, buat beli obat, buat operasi, dsb.
Apa yang dialami Pak Harto jelas berbeda dengan yang dialami masyarakat
kebanyakan, masyarakat miskin yang takut sakit karena biaya rumah sakit
yang selangit, masyarakat miskin yang lebih pasrah menunggu mati
orangtua mereka yang sedang sekarat sambil membacakan Al-Quran
ketimbang membawanya ke Rumah Sakit sambil meminta dokter untuk
memasang alat pacu jantung.

 

 

 

Ooooooh….Rumah
Sakit, kenapa engkau tidak menganggap seluruh pasienmu adalah Pak
Harto, sehingga kau akan lebih maksimal merawat mereka, lebih maksimal
mengobati mereka, dan tentu lebih banyak orang yang sembuh. But, apa
kenyataannya? Engga demikian. Orang yang masuk rumah sakit Cuma
orang-orang yang kaya, orang-orang yang mampu bayar, dan orang-orang
miskin yang nekat. Kalau begitu, benar apa yang pernah gw baca bahwa
Rumah Sakit meruakan satu-satunya insitusi yang jelas-jelas melakukan
diskriminasi terhadap masyarakat. Bagaimana tidak, mereka
memprioritaskan pasien bukan dari tingkat keparahan penyakitnya, tetapi
dari kekayaan pasiennya. Pasien yang mampu membayar biaya ICU atau
kamar VIP tentu akan didahulukan, dibandingkan dengan pasien miskin
yang hanya ditempatkan di kamar biasa walaupun ia menderita sakit parah
dan butuh perawatan intensif.

 

 

 

Ya
sudahlah…, apapun yang terjadi, masyarakat kita telah terbiasa dengan
semua keadaan yang menimpa bangsa ini, baik yang miskin maupun yang
kaya semuanya pandai menyesuaikan diri. Benar juga kalau ada yang
bilang bahwa manusia merupakan spesies yang paling pandai menyesuaikan
diri sehingga masih bertahan sampai sekarang ini dan belum punah. Untuk
Pak Harto semoga cepat sembuh, dan jika tak sembuh mudah-mudahan
diampuni dosa-dosanya dan diterima amal baiknya. Untuk keluarga Pak
Harto semoga diberikan kesabaran dan ketabahan. Untuk mereka yang
merasa terdzalimi dan menuntut keadilan, percayalah bahwa masih ada
pengadilan yang agung, yang paling adil selain di dunia ini. Dan untuk
yang lainnya, jagalah kesehatan, karena sakit itu mahal……..!!! 

Apa Arti Sabar…?

January 23rd, 2008 by zalistrugle-win

Apa arti sabar ?

Gw sendiri engga tahu artinya. Menurut
kalian apa dunk ?

Kebanyakan orang sering berkata;
“sabar ya, nanti juga sembuh.”, “sabar ya, nanti juga lupa.”, “sabar ya nanti
juga ketemu’, dan lain sebagainya. Mereka semua mudah sekali mengucapkan kata
‘sabar’ untuk menasehati seseorang, padahal bagi orang yang menjalankannya itu
sebuah tugas yang teramat berat. Sebagai contoh, kita pasti pernah patah hati,
lalu masih ingatkah bagaimana kita bisa melaluinya? Hari demi hari terasa
berat, yang ada cuma kesedihan terus-menerus, seolah-olah kita makhluk paling tragis di muka bumi dan tiada berarti
lagi. Beruntungnya kita masih sabar, sehingga kita dapat melaluinya dengan baik
tanpa memperburuk situasi dan semakin hancur. Orang yang tidak sabar, tentunya
akan melewati segala kepahitan dan kesedihan dengan mengalihkan kepada hal-hal
negatif lainnya seperti, narkoba, miras, dan lain sebagainya yang pastinya akan
menimbulkan masalah baru.

 

Semua orang perlu sabar agar
mendapat hikmah dari segala sesuatu. Orang yang pengangguran harus sabar untuk
menunggu panggilan kerja, pasangan suami istri yang belum mempunyai anak harus
sabar untuk mendapatkan keturunan, orang yang miskin harus sabar untuk
menghadapai segala sesuatu yang penuh keterbatasan dan kekurangan, dan orang
yang nge-jomblo kudu’ sabar buat ngedapetin pasangan idamannya. Orang lain,
tidak akan pernah merasakan apa yang kita rasakan walaupun mereka sering bilang
“gua juga ngerti”, “gua juga tahu yang lu rasain”, “gua juga ikut ngerasain”,
dsb, Hal itu dilakukan hanya untuk menghibur, walaupun mereka bisa membayangkan
tetapi tetap tidak bisa merasakan seperti apa yang kita rasakan.

 

Gw sendiri baru belajar apa
artinya sabar setahun belakangan ini. Gw menderita penyakit radang tenggorokan
akut yang belum sembuh sampai sekarang. Hampir semua dokter di daerah sekitar sudah
gw datangi bahkan sampai dokter spesialis THT, tetapi hasilnya cuma mendingan
doang dan belum sembuh total. Walaupun penyakit gw kedengarannya sederhana cuma
radang tenggorokan tetapi ini jelas menyiksa banget. Gw engga bisa lagi teriak
dengan keras, berhenti ngerokok, engga boleh minum es, engga boleh makan pedas,
dan kadang-kadang tenggorokan gw sering sakit. Rasanya hampir putus asa,
kadang-kadang gw sering beli obat sembarang di toko obat tanpa resep dokter.
Semua cara sudah gw lakukan buat kesembuhan penyakit gw tetapi sampai sekarang
hasilnya nihil dan yang tersisa cuma sabar.

Jadi apa arti sabar yang
sebenarnya?

Kata ustadz gw sabar itu ngga ada
batasnya dan kalau ada batasnya berarti sudah engga sabar. Katanya juga kalau
sabar itu rumusnya malaikat bukan rumusnya manusia. So, kayaknya berat banget
pelaksanaan sabar itu sendiri ya ! finally, sekarang gw coba untuk tetap sabar
dan menyesuaikan diri dengan penyakit radang tenggorokan yang gw hadapi,
alhamdulillah jadi berhenti ngerokok.

Kalau kalian, sabar dalam apa ?